PARA PECINTA MOBIL KLASIK DAN ANTIK

Kehadiran mobil-mobil klasik yang beberapa di antaranya berharga miliaran rupiah itu menyemburatkan kembali sejumlah pertanyaan. Apa enaknya memiliki mobil klasik yang umumnya sisa peninggalan masa lalu dan bagi pemiliknya lebih banyak menjadi sekadar pajangan saja?

Apa yang mendorong penyuka mobil klasik merogoh kocek hingga miliaran rupiah untuk melampiaskan hobinya itu? Pesona dan daya magnet yang dipancarkan mobil klasik, begitulah jawaban penggemar mobil klasik pada umumnya

Bagi Stanley Atmadja, Sutikno Soedarjo, ataupun Ermin Nasution, pesona mobil klasik bukan hanya tampilan fisik ataupun sifat langka karena diproduksi amat terbatas melainkan juga, nilai sejarah dalam artian inspirasi yang dikandungnya, terutama menyangkut perkembangan teknologi otomotif dunia. Kedengarannya klasik. Namun, justru inspirasi sejarah itulah yang memicu para pehobi mobil klasik itu rela bersitegang dengan istrinya demi mendapatkan mobil klasik buruannya. Sebuah kegemaran yang sering sudah dirintis sejak masih belia.

Stanley misalnya, ia gemar mengoleksi miniatur mobil sewaktu bocah, dan mulai tertarik memiliki mobil sport klasik usai menimba ilmu di negeri Paman Sam. Hobi ini, kata CEO Adira Group itu, diinspirasi oleh pemandangan yang kerap dilihatnya di California, tempat ia kuliah di University of La Verne, 21 tahun silam. Saat akhir pekan, jejeran mobil-mobil klasik jenis ini kerap dipamerkan pemiliknya di pantai, menjelang matahari tenggelam.

Pulang ke Indonesia pada 1985, Stanley mulai menjelajahi bengkel-bengkel mobil tua di seantero Jakarta. Ia mencari bangkai mobil. “Siapa tahu ada mobil klasik. Saya berencana membangunnya kembali,” tuturnya. Bukan di bengkel, tapi di garasi rumah seseorang di bilangan Radio Dalam, Jakarta, Stanley menemukan koleksi pertamanya, yakni satu unit BMW klasik tipe 2002 tahun 1969. Ia harus merogoh kocek Rp 15 juta saat itu.

“Tapi, biaya merestorasinya justru dua kali lipat menjadi Rp 30 juta,” kata pria kelahiran 24 Agustus 1956 itu.

Para pemilik bengkel tua akhirnya tahu bahwa Stanley sedang berburu mobil-mobil kuno. Maka, berduyun-duyun orang memberi info, termasuk mengirim foto-foto mobil klasik langka. Tapi, Stanley cukup selektif dalam memilih. Kini, di garasi rumahnya parkir sepuluh mobil klasik kelas collector item. Tak sedikit dari mobil-mobil ini yang ia peroleh dari luar Jakarta sehingga harus diangkut truk. Sebagian dari koleksi Stanley antara lain Jaguar E Type tahun 1960, Mercy Pagoda 1970, Alfa Romeo Spider 1971, Porsche 944, Mustang, atau Impala.

Dari ke-10 mobilnya tadi, koleksi yang terbilang paling langka adalah satu unit Lotus Elan. Di seluruh dunia, Lotus Elan hanya diproduksi ratusan unit. Di Indonesia, mobil jenis ini hanya dipunyai oleh Stanley. “Mobil ini punya reputasi internasional sebagai mobil edisi terbatas,” ujarnya.

Amerika Serikat

Bicara soal kolektor mobil klasik, belum lengkap tanpa menyebut nama Ermin Nasution. Pemilik Hot Rod Cafe ini dikenal sebagai penggemar sejati mobil-mobil legendaris Amerika Serikat (AS). Total, Ermin memiliki 20 mobil klasik AS keluaran dasawarsa 1950-an. “Semuanya jenis Chevrolet,” kata pengusaha yang pernah bekerja di perusahaan minyak ini. Uniknya lagi, Ermin memiliki sebuah showroom yang dibangun tepat di bawah kafenya untuk memajang sebagian koleksi mobilnya.

Mengapa Chevrolet? Di AS, kata Ermin, Chevrolet Bell Air keluaran 1955-1959 tergolong populer model dan kini menjadi barang antik bertaraf tinggi (high-class collection). “Ini mobil legendaries. Orang berani membeli dengan harga tinggi,” katanya.

Harga satu unit Chevrolet Bell Air keluaran 1950-an dijual rata-rata Rp 500 juta hingga Rp 700 juta di AS. Jika sudah masuk lelang, harganya bisa terdongkrak hingga Rp 1 miliar.

Koleksi Ermin yang kondang namanya di kalangan para kolektor adalah Chevrolet Bell Air tahun 1957 berwarna merah yang kerap digunakan artis-artis Hollywood pada film era 1950-an. Berapa harganya? Ermin mengatakan, “Wah, top secret nih, he he.”

Satu atau dua minggu sekali Ermin mengeluarkan Chevrolet koleksinya dari ‘kandang’ lantas memboyongnya jalan-jalan. Tapi, Ermin mengaku lebih suka sekadar memandangi mobil-mobil itu. Ia bisa betah berlama-lama di showroom atau garasi untuk memelototi koleksi-koleksi Chevrolet-nya. Anehnya, ia tak pernah merasa puas. “Seperti ada magnet yang membuat saya ingin terus-terusan di situ,” katanya.

Stanley dan Ermin sepakat bahwa asyiknya memelihara mobil-mobil klasik terletak pada tantangan untuk merestorasi mobil-mobil itu. Ermin yang sering berkunjung ke AS suatu ketika berkenalan dengan seorang pemilik bengkel mobil di California yang bisa menyulap mobil-mobil rongsokan menjadi kinclong. Ia pun terinspirasi. Pulang ke Indonesia, Ermin menyasar sebuah bangkai mobil Chevrolet yang sudah teronggok di jalan seharga Rp 3 juta.

Ia lantas membangunnya sendiri, mengeluarkan duit belasan hingga puluhan jutaan rupiah. “Ongkos lumayan besar karena saya mendatangkan spare-part asli mobil ini langsung dari Amerika Serikat lewat seorang teman di sana memakai layanan paket internasional,” kata dia.

Memang aneh-aneh para kolektor mobil-mobil klasik ini….ckc..ck…ck..

 

tags: ,